DXY terlihat bergerak sideways pada rata-rata 96.90-an pada perdagangan awal session Eropa 8/7.
Bertambahnya masalah COVID-19 yang terjadi negeri Paman Sam membuat beberapa investor gentar, hingga mengangkat nilai beberapa aset safe haven.
Keadaan global akhir-akhir ini kurang memberikan dukungan buat sentimen risk-off. Pada session New York, beberapa petinggi tinggi bank sentra AS mengungkapkan kecemasan mereka pada dampak kenaikan masalah COVID-19 paling baru.
Ada peluang kenaikan masalah itu bisa melumpuhkan usaha pemulihan ekonomi, pas mendekati usainya rangsangan fiskal.
Mary Daly Presiden Fed San Fransisco, memperingatkan kekuatan bahaya yang terjadi di pasar real estate serta permasalahan ketenagakerjaan pasca pandemi.
Tuturnya, Penilaian saya mengenai pasar tenaga kerja ialah itu ada pada keadaan lebih baik dibandingkan yang saya prediksi saat kita mengawali limitasi, tapi pasar tenaga kerja yang masih jauh dari posisi yang kita perlukan bila kita ingin mencapai amanat full-employment.
Presiden Fed Cposisiand, Loretta Mester, mengutamakan rangsangan fiskal penambahan untuk menyokong perekonomian.
Dia memberikan laporan jika pemulihan yang diawali dari sejak usainya lockdown pada bulan Mei, mulai terganggu kembali lagi sebab bertambahnya masalah COVID-19 di wilayahnya serta di semua negeri.
Yukio Ishizuki memiliki pendapat, Nuansa pasar beralih tiap hari, tapi Dolar nampaknya tertopang untuk saat ini sebab investor jadi makin berhati-hati dalam berlaku pada virus.
Tanggapan The Fed mengenai perekonomian terdengar muram. Ada fakta untuk cemas, sebab sulit memikirkan kapan virus akan teratasi.
Disamping itu, ketertarikan efek di benua Eropa tertahan oleh ketidaktetapan dalam negosiasi dagang Inggris-Uni Eropa. Boris Johnson barusan memperjelas komitmennya untuk mencapai persetujuan bertambah cepat.
Tetapi perundingan itu belum memperlihatkan perkembangan relevan semasa beberapa bulan, hingga banyak faksi memandang persetujuan akan terwujud mendekati akhir tahun.
Reli mata uang komoditi, terutamanya Dolar Australia, terhalang oleh sentimen pasar yang lebih buruk.
Ditambah lagi salah satunya negara bagian yang paling besar Aussie, Victoria, mulai diberlakukannya kembali lockdown lagi dari sejak awal bulan ini gara-gara kenaikan jumlah masalah COVID-19.






