Jerome Powell juga akan memimpin The Fed yang ke-16 sesudah Senat tadi pagi meyakinkan jabatan itu memiliki hak untuk disandangnya menukar ketua lama Janet Yellen yang habis masa jabatan ketua The Fed diakhir bulan ini.
Hasil pungutan suara atau voting di Senat AS kalau 85 sepakat tengah 12 abstain, hingga penunjukkan untu ketua baru The Fed dari Presiden Trump bulan November tahun yang lalu, saat ini tinggal menantikan pelantikan serta memimpin pada metting suku bunga The Fed yang pertama kalinya yang akan berlangsung minggu depan.
Walau Jay di konfirmasi tadi pagi dengan resmi dianya belum juga dapat segera melakukan masa tugasnya dimana masa jabatan Yellen juga akan selesai awal bulan depan.
Powell atau Jay ini telah masuk kedalam deretan petinggi teras The Fed saat bank sentral AS itu tengah menormalisasi kebijakan moneternya sesudah bertahun-tahun yang sebelumnya memperoleh akomodasi mengagumkan yang dipicu oleh krisis keuangan.
Bahkan pihak Yellen sesudah lengser jadi ketua, jadi juga akan berhenti jadi anggota The Fed walau dianya masih tetap memiliki hak jadi anggota The Fed sampai 31 Januari 2024.
Jay yang sebelumnya seseorang ekonom di sebagian perusahaan investasi keuangan yang sama dengan Carlyle Group, Severn Capital Partners serta Global Environment Fund dari latar belakang berbasiskan pasar terlebih dalam modal ventura.
Jay sempat juga bekerja di Kementerian Keuangan AS dan menuju ke The Fed mulai sejak 2012 menjabat jadi seseorang ilmuwan tamu untuk paka di bagian kebijakan bipartisan.
Jay memiliki misi kebijakan yang beberapa besar serupa dengan arah serta visi seperti Yellen, walau sebagian komentarnya tunjukkan kalau Jay mungkin saja sedikit lebih hawkish pada kebijakan moneter dimana relatif menginginkan menambah suku bunga serta agak melonggarkan ketentuan perbankan terlebih yang terkait dengan bank ritel yang terbaik pusat ataupun di daerah.
Selama ini, The Fed sudah mulai satu jalan yang panjang serta hati-hati untuk menormalisasi kebijakan moneternya dengan 5 kali kenaikan suku bunga mulai sejak Desember 2015. Sebagian petinggi The Fed sendiri menginginkan menaikkan kenaikan 3 kali sekali lagi di tahun ini.
Bersamaan dengan kenaikan suku bunga, berlangsung penurunan defisit laporan keuangan bank sentral $4, 5 triliun dari umumnya dibuat untuk penjualan obligasi T-Bills serta sekuritas berbasiskan mortgage dalam 3 kali lelang.






