Media memberikan laporan jika beberapa negara anggota Uni Eropa ingin mengultimatum Inggris supaya mengirim proposal koreksi persetujuan brexit sebelum tanggal 30 September 2019.
Gagasan itu digawangi oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron serta Pertama Menteri Finlandia Antti Rinne dalam satu pertemuan di Paris tempo hari.
Kita butuh tahu apa yang diharapkan oleh Inggris, papar Rinne, Inggris harus mendatangkan proposalnya selekasnya mungkin, bila mereka ingin proposal itu dibicarakan. Macron memberikan tambahan,
Kami berdua setuju jika ini waktunya buat Boris Johnson untuk tunjukkan proposalnya dengan tercatat -jika memang benar ada. Jika tidak ada proposal yang diterima di akhir September, karena itu peluangnya selesai.
Pengakuan Macron serta Rinne seirama dengan peringatan yang dipaparkan oleh negosiator top Uni Eropa pada Inggris awal minggu ini.
Jika terealisasi, karena itu punya potensi memajukan deadlinebrexit dari 31 Oktober jadi 30 September dengan de facto.
Namun, gagasan peringatan itu belum disetujui oleh beberapa negara anggota Uni Eropa lain. Kanselir Jerman Angela Merkel malah mengemukakan komentar positif yang memberi dukungan Inggris di hari yang sama.
Saya masih lihat peluang brexit terwujud dengan teratur, papar Merkel. Dia memperjelas kembali jika Jerman siap hadapi No-Deal Brexit, tapi lebih inginkan Inggris keluar dari Uni Eropa dengan bekal satu persetujuan tersendiri.






