Dalam perdagangan hari ini DXY hampir semua tidak pergerakan yang berarti serta condong tertekan pada posisi 97.00 sesi Eropa hari Jumat 16/November.
Sesudah launching laporan Philadelphia Fed Manufacturing Index serta Penjualan Ritel kemarintunjukkan angka yang semakin bervariatif. Beberapa ahli berlainan opini tentang apa reli Dolar AS akan bersambung sampai akhir tahun ini, atau mungkin telah kehilangan daya.
US Census Bureau memberikan laporan jika Penjualan Ritel di Amerika Serikat alami kenaikan 0.8 % dalam bulan Oktober Month-over-Month membalik penurunan 0.1 %.
Dalam perdagangan sebelumnya, sekaligus juga mengungguli harapan yang dibanderol pada posisi 0.6 %. Namun, Philadelphia Fed Manufacturing Index yang launching oleh instansi berlainan, tunjukkan penurunan mencolok dari 22.2 jadi 12.9 dalam bulan November walau sebenarnya awal mulanya diprediksikan cuma akan turun ke 20.7.
Buat data Penjualan Ritel ataupun indeks Philly adalah data berefek besar buat Dolar AS. Akan tetapi, beragamnya data yang dipertunjukkan, dilihat oleh analis takkan memengaruhi prospek kenaikan suku bunga Fed pada bulan Desember yang akan datang.
Masalahnya pimpinan Fed Jerome Powell sudah menyatakan komitmennya untuk meningkatkan suku bunga selalu, dalam satu pidato di hari Kamis.
Lepas dari berapa besar probabilitas kenaikan suku bunga, analis berlainan opini tentang prediksi gerakan Dolar AS ke depan.
Ahli taktik forex Morgan Stanley, Hans Redeker, mengutarakan dalam satu catatan buat client-nya jika Kami yakini Dolar AS telah sampai puncaknya di seputar posisi sekarang ini.
USD dapat melemah bersamaan melebarnya beda bunga credit, kejatuhan harga ekuitas, serta mulai berkurangnya yield obligasi pemerintah di dalam desakan disinflasi serta penurunan harga minyak.
Sampai kini, penambahan ketegangan perdagangan, kenaikan yield obligasi, dan kekuatan perekonomian AS sudah berperan melesatkan keinginan investor atas Dolar AS.
Walaupun demikian, Morgan Stanley memandang jika arus dana asing ke aset-aset AS cuma periode pendek serta rawan kembali secara cepat perihal manakah dapat memberikan indikasi pelemahan Dolar.
Kami lihat bukti jika arus dana masuk AS ke arah pasar uang serta terpacu oleh Carry Trade, bukannya sebab investasi asing langsung yang kuat atau arus dana periode panjang yang lain, jelas Redeker.
Tidak hanya Morgan Stanley, team analis dari beberapa bank investasi terpenting ikut memiliki pendapat seirama. Team dari Goldman Sachs mengutarakan jika Greenback telah mendekati puncaknya.
Selain itu, Kredit Agricole ikut memproyeksikan Dolar AS akan melemah sesudah partai Demokrat mengnilai tukarkan kendali House of Representatives selesai kemenangannya dalam Midterm Elections kemarin.






