Harga minyak terbenam makin pada dalam perdagangan sesion Asia hari Senin ini 19/6/2017. Pasar merisaukan berita kenaikan jumlah oil drilling rigs di Amerika Serikat, sesaat keinginan (permintaan) dari tiga negara importir paling besar di Asia malah alami penurunan. Sekarang ini, minyak diperdagangkan berada kisaran level yang sama juga dengan sebelumnya pemangkasan output OPEC diumumkan untuk pertama kalinya tahun kemarin.
Laju Produksi AS Meninggi Sekali lagi Tahun Ini
Waktu berita ditulis, harga minyak mentah referensi melandai sekitaran 0.3% ; Brent turun ke $47.18 per barel, sedang West Texas Intermediate (WTI) ke kisaran $44.57 per barel. Trader yang diwawancarai Reuters menyebutkan, aspek terpenting yang mendorong harga turun yaitu penambahan produksi AS yang selalu berlanjut dengan bertahap, hingga menumpulkan usaha OPEC untuk memotong surplus global.
Akhir minggu lalu, Baker Hughes memberikan laporan kenaikan jumlah sumur pengeboran (oil rig count) di AS dari 741 ke 747. Menurut Goldman Sachs, bila rig count selalu ada pada jumlahnya saat ini, produksi minyak AS juga akan bertambah sejumlah 770,000 barel /hari (bph) di ladang-ladang minyak Permian, Eagle Ford, Bakken, serta Niobrara dalam kurun saat pada kuartal empat tahun lalu sampai kuartal empat tahun ini.
Import Minyak Jepang Anjlok
Di bagian beda, perkembangan keinginan di tiga importir minyak paling besar di Asia ; Tiongkok, India, serta Jepang, malah terhalang. Kementrian Keuangan Jepang pagi hari ini memberikan laporan import minyak mentah anjlok 13.5% YoY pada bulan Mei ke level 2.83 juta bph. Keinginan minyak India di bulan yang sama jatuh 4.2%. Demikian juga keinginan minyak dari China sudah alami penurunan sepanjang sekian waktu paling akhir serta diprediksikan selalu turun dari level tinggi yang sudah meletakkannya jadi negara importir minyak paling besar ke-2 dunia sesudah AS.
Laporan-laporan itu menggaris bawahi kondisi buruk outlook komoditas minyak, sesudah minggu lalu instansi International Energy Agency (IEA) dalam memproyeksikan surplus global akan lebih parah oleh dikebutnya laju produksi dii negara-negara non-OPEC dalam tahun 2017 ini.






