Nilai tukar Rupiah yang semain terpuruk jauh terhadap Dolar AS memasuki sesi perdagangan Kamis 4 Oktober. Surat keterangan sah JISDOR turun drastis ke Rp15,133 per Dolar AS.
Selain itu, nilai tukar USD/IDR bergerak 0.72 % ke posisi Rp 15,178. Akan tetapi, beberapa petinggi tinggi Indonesia selalu mengemukakan optimisme mereka.
Sesuai dengan keterangan siang tadi, Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia, mengutarakan optimismenya jika melamahnya Rupiah pada Dolar AS akan berhentei sampai tahun ini saja. Sebab, menurut dia, desakan external atas Rupiah akan mulai menghilang tahun kedepan.
Gubernur juga mengatakan ada tiga aspek yang akan membuat stabil nilai tukar Rupiah dalam tahun kedepan. Pertama, Federal Reserve akan perlambat pergantian kebijakan moneternya. Bank sentral AS itu diekspektasikan akan meningkatkan suku bunga 3x tapi peluang cuma meningkatkan 2x atau 0.5 % tahun 2019.
Ke-2, ia mengestimasikan jika investor global takkan selalu menumpuk dana mereka pada Dolar AS, karena penurunan yield itu.
Mereka akan mencari pilihan investasi lainnya di beberapa negara berkembang, termasuk juga Indonesia. Ia juga memberikan jika peluang semakin terbuka karena banyak modal masuk serta memulihkan pelemahan nilai tukar tahun ini.
Ketiga Perry mengamati defisit laporan keuangan yang berjalan sekarang ini akan menyempit tahun kedepan, di dukung oleh beberapa usaha pemerintah untuk batasi import.
Lepas dari harapan gubernur BI yang menukar Agus Martowardojo semenjak 24 Mei 2018 itu, aktor pasar sekarang ini malah memprediksi bank sentral AS akan berlakukan hawkish.
Baru barusan pagi pagi hari, pimpinan Federal Reserve menyampaikan jika mereka dapat meningkatkan suku bunga sampai lebih dari posisi yang dipandang normal, bersamaan dengan berlanjutnya perkembangan ekonomi AS.
Sedangkan Yield Obligasi Pemerintah AS 10 tahun bergerak naik ke posisi paling tinggi dalam tujuh tahun, menyusul komentar itu serta semakin membaiknya data-data ekonomi AS yang dirilis Rabu kemarin.
Harapan pasar tentang bertambahnya suku bunga Fed juga semakin tinggi. Mengakibatkan, mata uang pesaingnya terpuruk, termasuk juga Rupiah yang termasuk rentan karena status defisit laporan transaksi berjalan.






