Pasangan Dolar Australia melejit ke posisi paling tinggi dua bulan di hari Rabu 17/4, sebab perkembangan ekonomi China masih konstan dalam kuartal pertama tahun 2019.
Pasangan AUD/USD naik seputar 0.4 % ke posisi 0.7205, Sementara AUD/NZD melompat 0.7 % ke posisi 1.0683.
Penguatan berlainan dengan bias kebijaksanaan bank sentra Australia yang masih tetap bearish, tapi dapat mengubah outlook Aussie sebab besarnya dampak pemulihan ekonomi China buat beberapa negara partner dagangnya.
Menurut laporan sah, GDP China sukses mencatat perkembangan 6.4 % Year-on-Year pada kuartal pertama tahun , Sementara produksi industri melompat 8.5 % YoY pada bulan Maret, serta tingkat pengangguran turun dari 5.3 % jadi 5.2 %. Semasing data itu sukses mengungguli perkiraan awal beberapa analis serta ekonomi.
Publikasi serangkaian data itu ikut mengangkat prospek Dolar Australia, sebab utamanya tempat China menjadi satu diantara market share export komoditi penting buat negeri Kanguru.
Martin Essex mencatat, Nilai AUD/USD dilihat luas menjadi proxy China sebab ketergantungan Australia pada export ke negeri itu, yang kelihatannya menantang kecemasan tentang perlambatan selanjutnya.
Akan tetapi, walau angka-angka mensinyalkan jika stimulus fiskal Beijing memberi efek positif, sekarang masih tetap begitu awal untuk memproyeksikan perkembangan berkepanjangan.
Selanjutnya, dia memandang, Gambaran teknikalnya bernilai serta penguatan AUD/USD saat dapat diproyeksikan seandainya data-data di waktu depan terus-terusan ke arah pada stabilisasi perekonomian China serta optimisme selalu ada berkaitan perundingan perdagangan AS-China.
Seirama dengan Essex, Yukio Ishizuki, ahli taktik forex senior Daiwa Securities menjelaskan pada Reuters, Walaupun bank sentra Australia terdengar dovish, sebenarnya pemotongan suku bunga bukan pilihan yang bisa dikerjakan saat . Unsur itu, dan harga bijih besi yang tambah tinggi, bisa mengangkat Dolar Australia kuat dalam periode panjang.
Selain itu, indeks Dolar AS DXY melemah 0.21 % sebab terdapatnya kenaikan ketertarikan resiko yang mengikuti launching GDP China serta kurangnya katalis dari Amerika Serikat. Aktor pasar pilih untuk mengubah dananya ke aset-aset keuangan beresiko tambah tinggi seperti Dolar Australia.






