Dalam perdagangan hari ini euro berjalan naik sebesar 0.2 % sampai sampai posisi paling tinggi 1.1327 pada Dolar AS Senin 25/Maret.
Launching indeks IFO Jerman terbaru yang tunjukkan perbaikan kepercayaan usaha ditempat, menghidupkan kembali pasangan EUR/USD yang sudah sempat terjatuh pada posisi paling rendah satu pekan. Euro pun terpantau kuat tipis vs Poundsterling, Franc Swiss, serta Yen Jepang.
Instansi penelitian IFO institute memberikan laporan jika indeks sentimen usaha Jerman naik dari 98.7 jadi 99.6 dalam survey yang diadakan bulan Maret ini.
Angka itu lebih baik daripada harapan analis yang memperoyeksikan indeks itu tetap akan terjatuh pada posisi 98.5, rekor terburuknya semenjak bulan Desember 2014. Laporan itu menggerakkan yield obligasi pemerintah Jerman naik kembali pada atas 0, sekaligus juga menggairahkan minat pada Euro.
Sejumlah perusahaan cukup lebih senang dengan keadaan usaha mereka sekarang ini, serta mereka lebih optimis berkaitan prospek usaha dalam enam bulan ke depan, papar IFO.
Segi penilaian responden pada keadaan ekonomi terbaru sampai 103.8, tambah tinggi dibanding prediksi awal yang dibanderol pada 103.0. Indeks yang tunjukkan harapan responden pun naik dari 94.0 jadi 95.6.
Di lain sisi, Dolar AS tengah dirundung kecemasan tentang intimidasi krisis ini hari. Seperti didapati, yield obligasi AS bertenor 3-bulanan US 3-month Treasury melejit sampai melebihi yield obligasi AS berjangka waktu lebih lama, terutamanya US 10-year Treasury.
Walau sebenarnya, catatan historis tunjukkan jika pembalikan semacam itu adalah salah satunya tanda-tanda yang muncul sebelum berlangsungnya krisis di Amerika Serikat. Berita itu melemahkan Dolar AS, sekaligus juga mengangkat nilai mata uang-mata uang lawannya.
Lepas dari itu, prospek Euro dalam periode panjang masih tetap bearish. Di akhir tahun kemarin, Jerman lolos tipis dari krisis, tapi sudah riil kehilangan momen pertumbuhannya.
Dalam tahun 2019 ini, beberapa negara anggota Zone Euro diprediksikan masih tetap bergumul dengan pembengkakan defisit biaya, perseteruan politik regional, serta penurunan export yang peluang akan semakin menciutkan taraf industrinya.
Searah dengan itu, bias kebijaksanaan moneter bank sentra Eropa masih tetap condong akomodatif, serta bahkan juga mereka merencanakan melaunching paket stimulus baru pada bulan September.






