Euro menurun ke level rendah delapan hari di session perdagangan Jumat 13Juli sore hari ini. Menguatnya Dolar AS yang dikarenakan oleh laporan inflasi kemarin malam, mensupport kenaikan suku bunga The Fed kelanjutan. Selain itu, mengendurnya urat kemelut perdagangan pada Amerika Serikat serta China, bikin Euro mesti mengalah pada Dolar AS.
Inflasi AS Mensupport Kenaikan Suku Bunga
Keinginan akan kenaikan suku bunga The Fed 2x lagi tahun ini didukung oleh kuatnya inflasi AS. Sesuai sama harapan, Indeks inflasi customer CPI AS bulan Juni tunjukkan kenaikan sekitar 2. 9 % dibanding dengan tahun kemarin. Angka itu juga lebih tinggi dari hasil launching bulan Mei yang menempati level 2. 8 %.
Sedang Indeks CPI Inti Core CPI, yang tidak masukkan harga barang volatil seperti makanan serta bahan bakar, juga mencatatkan kenaikan ke level 2. 3 % dari mulanya di 2. 2 %.
ECB Kalah Hawkish Dibanding The Fed
Ahli Forex dari Rabobank, Piotr Matys, menyampaikan, diakui ataukah tidak saat ini celah divergensi kebijakan moneter pada The Fed dengan bank-bank sentral negara lainnya semakin melebar.
Rangkaian data inflasi AS kemarin mengonfirmasi jika The Fed akan jadi bank sentral dengan kebijakan moneter sangat ketat diantara bank sentral yang lain, tegas Matys. Kami meyakini Dolar AS mempunyai potensi perpanjang reli.
Dibanding dengan European Central Bank ECB, The Fed memanglah tambah lebih hawkish. Kemarin malam, notulen ECB tunjukkan jika bank sentral itu dovish dengan memiliki komitmen melindungi pelonggaran moneter mereka sepanjang diperlukan serta sambil menanti inflasi sampai sasaran.
Oleh oleh karena itu, tidak heran jika Euro melemah pada Dolar AS meskipun ke-2 mata uang ini saling mata uang tertarik resiko. Masalahnya kebijakan moneter yang ketat di satu negara punya potensi menguatkan nilai kurs mata uangnya.
Dalam hal tersebut, bank sentral AS lebih hawkish dibanding Zone Euro hingga Dolar AS lebih kuat. Waktu berita ini ditulis, EURUSD perdagangan pada 1, 1633, turun dari session semula di 1. 1664.






