Memasuki sesi perdagangan Eropa hari Senin 18/3, Euro kuat sampai sampai posisi paling tinggi dalam lebih dari dua minggu pada 1.1359 pada Dolar AS.
Penguatan Euro itu terkait dengan depresiasi Dolar AS dan launching data neraca perdagangan yang jauh melebihi harapan awal. Akan tetapi, pasangan mata uang EUR/USD sudah terkoreksi kembali pada 1.1346 pada awal pembukaan session New York.
Di hari Jumat, beberapa data ekonomi Amerika Serikat diumumkan lebih jelek dibanding harapan awal. Output manufaktur jatuh 0.4 % dalam bulan Februari 2019, sedang kegiatan pabrikan di negara sisi New York meleset dari perkiraan.
Mengakibatkan, yield obligasi AS anjlok ke posisi paling rendah 10 minggu serta aktor pasar mensinyalir jika Federal Reserve akan memotong prediksi kebijaksanaan yang akan datang. Perihal ini menyebabkan Dolar AS melemah pada sejumlah besar mata uang mayor dalam perdagangan ini hari.
Di lain sisi, Eurostat memberikan laporan jika surplus neraca perdagangan Zone Euro cuma mengalami penurunan dari 17.0 Miliar jadi 1.5 Miliar saja dalam bulan Januari 2019, bergerak mengalami defisit 8.0 Miliar seperti diestimasikan sebelumnya.
Berita itu dapat mengangkat dikit nilai Euro dalam perdagangan mata uang. Akan tetapi, outlook periode panjang buat mata uang 19 negara ini masih tetap suram.
Satu demonstrasi anarkis meletus kembali di Paris, Prancis, di akhir minggu. Demonstrasi yang dijuluki menjadi pergerakan rompi kuning Yellow Vest itu menyalahkan tingginya ketimpangan ekonomi, elitisme, dan menuntut perbaikan struktural dalam beberapa segi ekonomi.
Dalam rencana menahan tindakan memprotes, Presiden Prancis Emmanuel Macron sudah melaunching beberapa gagasan pemangkasan pajak serta penentuan upah minimal. Akan tetapi, rencana-rencana itu di kuatirkan malah akan tingkatkan defisit biaya Prancis.
Dalam teori ekonomi, perbaikan struktural atas keadaan perekonomian bisa dikerjakan dengan memperlancar stimulus fiskal berbentuk pemangkasan pajak, pembangunan infrastruktur, kenaikan upah karyawan, dan penambahan berbelanja negara yang lain.
Akan tetapi, aksi itu mewajibkan negara untuk meningkatkan defisit biaya mereka, atau dalam kata lainnya, berutang semakin banyak kembali.






