Berkenaan dengan ekonomi Amerika Serikat yang mulai bangkit di semuanya lini, jadi Federal Reserve memanglah seharusnya menjauh dari kebijakan moneter akomodatif.
Kenaikan suku bunga selama ini cukuplah untuk mencengah inflasi yang tidak diharapkan, namun baiknya tidak dikerjakan sangat cepat karena menyebabkan resiko resesi. Pengakuan itu diungkapkan oleh Presiden The Fed untuk lokasi Kansas City, Esther George.
Dalam pidato pembukaan dalam suatu simposium agrikultur Rabu 18Juli hari ini, George menyampaikan, Waktu full employment dibarengi dengan kestabilan harga, kebijakan semestinya bisa jadi dampak yang netral pada kegiatan ekonomi.
Kenaikan suku bunga setahap setelah itu akan diperlukan untuk kembalikan kebijakan dalam tempat yang netral, meskipun ada pertimbangan ketidakpastian mengenai sejauh mana atau secepat apa persisnya langkah yang kita perlukan, tutur Esther George.
Esther George merupakan salah seseorang alternate anggota dalam FOMC bank sentral AS tahun ini. Pengakuan itu mensupport isi testimoni Ketua The Fed Jerome Powell kemarin malam, dan beberapa komentar hawkish dari petinggi The Fed yang lain.
Meskipun awal kalinya Esther George diketahui berpandangan hawkish serta condong merekomendasikan kenaikan suku bunga dengan cepat dibanding anggota-anggota FOMC yang lainnya, tetapi dalam pidatonya kesempatan ini, George terlihat masih tetap memperhitungkan data ekonomi serta keadaan pasar finansial.
Diambil oleh Reuters, George menyampaikan jika ekonomi Amerika sekarang ini tengah berbentuk yang begitu baik . Tetapi, ia masih tetap lihat ada resiko berarti yang dapat tumbuh sangat cepat, karena stimulus fiskal serta akomodasi global. Di lainnya pihak, keadaan ekonomi dapat juga mendadak melambat karena kebijakan perdagangan.
Walau sekarang ini ekonomi AS memerlukan kenaikan suku bunga, George mengutamakan pentingnya kehati-hatian dalam memastikan suku bunga. Bila Anda tidak waspada, maka dapat begitu ringan untuk meleset dari sasaran serta merubah kondisi yang tengah ‘terlalu panas’ berubah menjadi ‘terlalu dingin’, demikian uangkap Esther George.






