Kurs dolar AS terus menurun pada sekeranjang mata uang penting yang lain dekati posisi paling rendah 2 tahun di akhir perdagangan Sabtu pagi WIB, sebab sentimen efek tertekan saat beberapa aktor pasar menimbang efek dari pandemi COVID-19.
Dolar menulis pengurangan mingguan paling besar dalam hampir empat bulan pada sekeranjang mata uang penting dan lihat prosentase pengurangan mingguan paling besar pada euro yang naik dari sejak akhir Maret.
Indeks dolar AS, yang menghitung greenback pada enam mata uang penting yang lain, turun 0,26 % jadi 94,445.
Sebelumnya di session terbut, indeks dolar pernah jatuh ke 94,358, paling rendah baru dalam 22 bulan paling akhir.
Memasuki sesi akhir perdagangan New York, euro kuat jadi 1,1635 dolar AS dari 1,1608 dolar AS pada session sebelumnya, serta pound Inggris naik jadi 1,2788 dolar AS dari 1,2743 dolar AS pada session sebelumnya.
Dolar Australia menurun jadi 0,7094 dolar AS dari sebelumnya 0,7108 dolar AS. Dolar AS dibeli sebesar 106,01 yen Jepang, semakin rendah dari posisi 106,73 yen Jepang pada session sebelumnya.
Dolar AS menurun jadi 0,9222 franc Swiss dari 0,9252 franc Swiss, serta bertambah jadi 1,3422 dolar Kanada dari posisi sebelumnya 1,3387 dolar Kanada.
Beberapa pedagang cemas jika infeksi Virus Corona yang naik di Amerika Serikat tetap akan memberatkan perekonomian, beberapa pakar menulis.
Perlahan-lahan jadi jelas serta buat yang optimistis dolar tidak bisa pulih jika gelombang COVID-19 sekarang ini di AS akan tinggalkan jejak negatif untuk ekonomi AS, Antje Praefcke menjelaskan dalam satu catatan.
Sampai Jumat sore 24/7/2020, lebih dari pada 4,07 juta masalah sudah disampaikan di Amerika Serikat, lebih dari 144.000 kematian, menurut perhitungan oleh Kampus Johns Hopkins.






