Beranda Berita 13 November 2025: DXY Menanti Data Ketenagakerjaan, EUR dan GBP Hadapi Tekanan...

13 November 2025: DXY Menanti Data Ketenagakerjaan, EUR dan GBP Hadapi Tekanan Resesi

60
0
DXY, USD,

13 November 2025 – Pasar mata uang global memasuki sesi perdagangan Asia pada hari Kamis (13/11) dengan nada yang cenderung hati-hati. Mayoritas pasangan mata uang utama tampak berkonsolidasi dalam rentang yang sempit, mencerminkan sikap wait-and-see para investor setelah rilis data inflasi konsumen AS yang beragam kemarin, dan menjelang rilis data ketenagakerjaan AS yang krusial malam ini.

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau stabil di sekitar level 105.50 pada pukul 07:45 WIB. Dolar berhasil mempertahankan posisinya meskipun data Inflasi (CPI) AS untuk bulan Oktober yang dirilis Rabu malam menunjukkan sedikit pelunakan, namun tidak cukup untuk mengubah narasi kebijakan moneter Federal Reserve secara drastis.

DXY: Dilema Pasca-Inflasi dan Fokus pada Klaim Pengangguran

Data CPI AS yang dirilis kemarin menunjukkan inflasi inti (Core CPI) sedikit melambat dari perkiraan, memberikan kelegaan sesaat bagi pasar yang cemas akan tekanan harga yang persisten. Reaksi awal pasar adalah aksi jual Dolar AS, karena data tersebut sedikit mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut dari The Fed.

Namun, pelemahan Dolar tidak bertahan lama. Pejabat The Fed, dalam berbagai kesempatan, telah menegaskan bahwa perjuangan melawan inflasi belum berakhir dan kebijakan “higher for longer” (suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama) masih menjadi skenario utama. Data CPI kemarin, meskipun sedikit mendingin, belum cukup kuat untuk memicu pivot (perubahan arah kebijakan) yang signifikan dari bank sentral AS.

Fokus pasar kini beralih sepenuhnya ke data Klaim Pengangguran Awal (Initial Jobless Claims) AS yang akan dirilis malam ini. Data ini dianggap sebagai proksi penting untuk kesehatan pasar tenaga kerja. Jika angka klaim tetap rendah (menunjukkan pasar kerja yang masih ketat), ini dapat diartikan bahwa tekanan upah dan inflasi akan tetap ada, yang pada gilirannya akan mendukung penguatan Dolar AS. Sebaliknya, lonjakan tak terduga dalam klaim pengangguran dapat menghidupkan kembali spekulasi pemangkasan suku bunga Fed dan menekan Dolar.

EUR/USD: Terjebak Antara Data Lemah dan Kebijakan ECB

Pasangan mata uang EUR/USD diperdagangkan relatif datar di sekitar level 1.0780. Mata uang tunggal Eropa ini gagal memanfaatkan pelemahan Dolar yang sesaat kemarin, karena dibebani oleh faktor fundamental internalnya sendiri.

Kekhawatiran akan resesi di Zona Euro, khususnya di Jerman sebagai motor ekonomi kawasan, semakin meningkat. Data Indeks Sentimen Ekonomi ZEW Jerman yang dirilis awal pekan ini menunjukkan pesimisme yang mendalam di kalangan investor. Selain itu, komentar terbaru dari Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, cenderung dovish (lunak).

Lagarde mengisyaratkan bahwa ECB mungkin akan lebih cepat dalam mempertimbangkan pemangkasan suku bunga dibandingkan The Fed, mengingat perlambatan ekonomi yang lebih tajam di Zona Euro. Divergensi kebijakan yang melebar antara ECB (cenderung lunak) dan The Fed (masih ketat) ini menjadi penghalang utama bagi Euro untuk menguat secara signifikan terhadap Dolar. Secara teknikal, EUR/USD terlihat terjebak dalam rentang konsolidasi antara support di 1.0750 dan resistance di 1.0820.

GBP/USD: Dibayangi Momok Resesi Inggris

Nasib yang lebih buruk menimpa Pound Sterling. Pasangan GBP/USD tertekan dan diperdagangkan di bawah level psikologis 1.2350. Tekanan jual terhadap Pound meningkat tajam setelah rilis data PDB (Produk Domestik Bruto) Inggris kemarin.

Data resmi menunjukkan ekonomi Inggris mengalami kontraksi sebesar 0.1% pada kuartal ketiga 2025. Angka ini meningkatkan kekhawatiran bahwa Inggris sedang menuju resesi teknikal (dua kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif).

Situasi ini menempatkan Bank of England (BoE) dalam posisi yang sangat sulit. Di satu sisi, inflasi di Inggris masih merupakan yang tertinggi di antara negara maju lainnya, yang seharusnya membutuhkan suku bunga tinggi. Di sisi lain, menaikkan suku bunga lebih lanjut di tengah ekonomi yang menyusut dapat memperburuk resesi. Dilema stagflasi ini sangat membebani Sterling, dan analis memperkirakan GBP/USD rentan untuk menguji level support yang lebih rendah.

USD/JPY: Waspada Ancaman Intervensi di Atas 151

Di Asia, pasangan USD/JPY tetap bertahan di level tinggi, diperdagangkan di sekitar 151.20. Daya tarik carry trade—meminjam Yen dengan bunga rendah untuk membeli Dolar dengan bunga tinggi—tetap menjadi pendorong utama pelemahan Yen.

Bank of Japan (BoJ) sejauh ini tetap teguh pada kebijakan moneter ultra-longgarnya, meskipun ada sedikit penyesuaian pada kebijakan kontrol kurva imbal hasil (YCC) beberapa waktu lalu. Perbedaan suku bunga yang ekstrem antara AS dan Jepang membuat Yen tidak menarik.

Meskipun demikian, pasar tetap sangat waspada. Level di atas 151 secara historis telah memicu intervensi verbal dan aktual dari Kementerian Keuangan Jepang (MoF) untuk menopang mata uangnya. Trader saat ini tampak enggan untuk mendorong USD/JPY lebih tinggi secara agresif karena takut akan adanya intervensi mendadak. Fokus jangka pendek untuk Yen akan tertuju pada rilis data PDB Jepang yang dijadwalkan besok.

Kesimpulan Pasar

Secara keseluruhan, pasar forex hari ini berada dalam mode konsolidasi yang tegang. Pergerakan harga didominasi oleh sentimen wait-and-see menjelang rilis data Klaim Pengangguran AS. Dolar AS kemungkinan akan tetap didukung dalam jangka pendek kecuali data tersebut menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja yang signifikan. Sementara itu, Euro dan Pound Sterling tetap berada di bawah tekanan karena prospek ekonomi masing-masing kawasan yang suram.

– idnfx

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses