DXY terpuruk ke rekor paling rendah 2 tahun pada posisi 83.48 dalam perdagangan hari Senin kemarin. Posisinya sudah bergerak ke 93.90-an memasuki awal session Eropa hari ini 28/7, tapi masih condong tertekan.
Depresiasi Greenback terkait dengan bermacam rumor sebagai sorotan pasar mendekati rapat kebijaksanaan bank central AS FOMC minggu ini.
Dolar AS pernah berperanan untuk asset safe haven penting sesudah menyebarnya pandemi virus Corona COVID-19 pada awal tahun 2020.
Namun, mata uang ini makin dijauhi bersamaan dengan bermacam perkembangan yang terwujud dalam penelitian vaksin virus itu.
Ditambah lagi potensial pemulihan ekonomi global makin kuat sebab banyak negara yang hentikan pemberlakukan lockdown.
Di lain sisi, Amerika Serikat hadapi tahun politik yang hiasi dengan bermacam ketegangan di luar dan dalam negeri.
Jumlah masalah infeksi virus Corona terus bertambah dengan pergerakan bertambah cepat dibandingkankan negara mana saja, tapi bahasan proposal budget rangsangan fiskal penambahan untuk mengatasi pandemi justru terhalang di parlemen AS.
Greenback roboh ke rekor paling rendah dari sejak Maret pada Yen serta Sterling, selip dekati paling rendah 2 tahun pada Euro, serta sentuh rekor paling rendah lima tahun versi Franc Swiss, tegas Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union.
Tidak ada pertanda virus Corona berkurang di AS bermakna tidak ada batas bawah buat pelemahan Greenback.
Problema AS dalam menantang virus sudah memudarkan kepercayaan pasar pada beberapa petinggi yang perjuangkan pemulihan ekonomi bertambah cepat.
Kebijaksanaan moneter AS mendatangkan ketidaktetapan lain. Mendekati rapat FOMC yang akan diselenggarakan mulai hari ini sampai 2 hari ke depan, aktor pasar cemas kalau-kalau Federal Reserve akan semakin toleransi pada rendahnya pergerakan inflasi di negeri Paman Sam.
Fakta dibalik sentimen bearish USD datang dari besarnya likuiditas USD yang sudah disuntikkan ke pasar dalam beberapa waktu akhir-akhir ini.
Digabungkan dengan harapan luas jika The Fed akan menegaskan suara dovish-nya di pertemuan kebijaksanaan minggu ini, tegas Jane Foley, ahli taktik forex dari Rabobank.
Investor serta trader memprediksi The Fed tidak mengganti tingkat suku bunga referensi atau rasio Quantitative Easing yang sudah dipublikasikan sebelumnya.
Tetapi, ada peluang The Fed akan melakukan modifikasi sasaran inflasinya. Masalahnya sasaran inflasi The Fed yang ada pada posisi 2 % sudah lama tidak berhasil terwujud serta akan makin susah dijangkau ditengah-tengah kritis karena pandemi COVID-19.






