DXY turun semenjak masuk session New York 28/5 sampai mendekati penutupan pasar pagi hari ini 29/5.
Waktu kabar dicatat, DXY sudah menulis pelemahan harian sebesar 0.5 % ke rata-rata 98.50-an berkenaan dengan kabar-kabar paling baru yang jadi memperburuk outlook negeri Paman Sam ke depan.
Greenback tidak cuma menyerah versi mata uang safe haven seperti Yen serta Franc, tetapi mata uang berbeta tinggi seperti Aussie serta Sterling.
Masalahnya aktor pasar mencemaskan keterkaitan dari eskalasi perselisihan AS-China serta jeleknya data ekonomi AS paling baru.
Petinggi teratas AS mengatakan jika mereka memandang Hong Kong sudah kehilangan posisi otonomi dari China.
Maka dari itu, Hong Kong tidak wajar lagi memperoleh perlakukan spesial dari AS yang memungkinkannya menjadi salah satunya sentral finansial dunia.
Tidak lama berlalu, AS, Kanada, Australia, serta Inggris tanda-tangani pakta bersama-sama untuk memberikan dukungan independensi Hong Kong.
Di lain sisi, sangsi apa saja yang dijatuhkan pada China dalam tempo dekat pasti selekasnya memperoleh reaksi balasan dari Beijing.
Keadaan ini tingkatkan kesiagaan investor, hingga banyak faksi selekasnya berubah ke asset safe haven.
Investor diminta putuskan apa akan meloncat ke kereta risk-on supaya tidak tertinggal di belakang, atau apa akan menjaga sikap berhati-hati mendekati memburuknya kemelut perdagangan di antara AS dan China serta banjir data ekonomi jelek yang tidak terhindar, kata Jane Foley dari Rabobank sesaat sebelum launching data GDP.
Ketegangan dagang AS-China itu akan penting dalam membendung ketertarikan efek semasa bulan-bulan mendekati pemilu AS serta kekuatan selanjutnya.
Serta semenjak sebelum kritis virus Corona, jalinan jelek AS-China sudah mempunyai efek pada nilai USD. Kemelut AS-China bisa menjadi penggerak pasar penting lagi tahun ini, lanjut Foley, Pemerintahan Trump tidak menyenangi kenaikan tajam dalam nilai USD/CNY.
Dengan memperhitungkan efek geopolitik, kami memandang masih begitu awal untuk menginginkan pengurangan relevan dalam nilai USD dalam beberapa waktu ke depan.
Disamping itu, rangkaian laporan ekonomi jelek dari Amerika Serikat tingkatkan aktor pasar jika kritis karena pandemi COVID-19 belum selesai.
Laporan preliminer US Bureau of Economic Analysis mengatakan perkembangan ekonomi AS turun 5.0 % Quarter-over-Quarter pada kuartal I/2020.
Pergerakan kemerosotan ini semakin kronis dibandingkan harapan awal, sekaligus juga memupus perkembangan semasa dua kuartal awalnya. Data Initial Jobless Claims kembali lagi cetak angka semakin jelek dari harapan.






