Pasangan AUD/USD meneruskan pelemahan ke bawah rata-rata 0.6290-an dalam perdagangan ini hari 16/4. Publikasi data tenaga kerja Australia barusan pagi sukses melewati harapan pasar.
Namun, laporan itu cuma dapat menggerakkan Aussie naik sesaat saja. Penurunan langsung berlangsung lagi karena ramainya tindakan risk-off di pasar keuangan global.
Australian Bureau of Statistics ABS memberikan laporan tingkat pengangguran cuma bertambah dari 5.1 % jadi 5.2 % saja, bukanlah sampai 5.5 % seperti diprediksikan oleh konsensus analis.
Selain itu, Employment Change memperlihatkan bertambahnya sekitar 5.9k dalam periode Maret 2020. Angka itu di bawah perolehan 26.7k pada periode Februari, tapi semakin lebih baik daripada prediksi -40.0k yang dicemaskan aktor pasar.
Lepas dari cemerlangnya data-data itu, aktor pasar tidak lalu berasa lega. Permasalahannya, penyebaran epidemi COVID-19 di Australia memang relatif lebih lamban.
ABS mengutarakan ada beberapa efek awal kecil dari epidemi COVID-19, tapi mencatat jika efek apa saja dari tindakan besar berkaitan COVID-19 akan terlihat dalam data April.
Peluang akan ada data yang semakin lebih lemah ke depan sebab kebijaksanaan diperketat serta dengan cara efisien tutup sisi kerja padat karya dalam perekonomian.
Data Maret cuma mempunyai efek samar pada AUD sebelum kembali pada trading sesuai dengan arah USD pada umumnya, tutur Adam Cole dari RBC Capital.
Joseph Capurso dari Commonwealth Bank of Australia menjelaskan, AUD/USD terus bergerak dalam trend turun kembali lagi di bawah 0.6300, sebagiannya sebab USD yang lebih kuat.
AUD/USD cuma terima suport sesaat dari laporan angkatan kerja Maret yang lebih bagus dari harapan.
Dolar Australia termasuk juga salah satunya mata uang mayor yang benar-benar peka pada trend efek ekonomi berkaitan epidemi COVID-19 sekarang.
Setiap saat kecemasan pasar pada peluang krisis karena epidemi ini bertambah, Aussie langsung hadapi tindakan jual dengan cara luas.
Sebaliknya, Dolar AS masih dipandang seperti salah satunya asset safe haven, walau Amerika Serikat sekarang ada di pinggir jurang krisis serta mencatat jumlah korban epidemi paling besar di dunia.






