DXY cetak penurunan harian hampir 0.5 % ke sebesar 98.50 pada pertengahan session New York 4/9.
Beberapa pelemahan itu ada sesudah launching laporan neraca perdagangan yang tidak berhasil penuhi perkiraan awal.
Waktu berita dicatat, Greenback melemah kronis pada Euro serta Pounds, walau kuat hanya terbatas versi Yen Jepang.
Bureau of Economic Analysis BEA memberikan laporan jika defisit neraca perdagangan Amerika Serikat menyusut dari USD55.50 Miliar jadi USD54.00 Miliar pada periode Juli 2019.
Export bertambah dari USD206.30 Miliar jadi USD207.40 Miliar, sesaat import menyusut dari USD261.80 Miliar jadi USD261.40 Miliar.
Namun, neraca dagang tidak berhasil penuhi harapan konsensus ekonom yang memprediksi defisit menyempit sampai USD53.50 Miliar.
Defisit AS dengan China menyusut sekitar USD500 Juta jadi USD29.6 Miliar pada periode itu, memberikan indikasi jika usaha perang dagang yang digalakkan oleh Presiden AS Donald Trump mulai membawa hasil.
Tetapi, AS mungkin saja harus mengorbankan lebih beberapa hal untuk sampai sasaran itu.
Defisit perdagangan AS keseluruhannya bukan cukup dengan China malah alami kenaikan 8.2 % jadi USD28.2 Miliar dibanding dengan periode yang sama pada tahun 2018.
Perusahaan-perusahaan AS malas menyikapi himbauan Presiden Trump untuk keluar dari China.
Beberapa pelaku bisnis yang diwawancarai oleh CNBC menjelaskan jika sekalinya sekarang mereka mengalihkan jalan supply keluar dari China ke negara lain.
Tidak ada agunan jika Trump seterusnya tidak mencari masalah dengan negara lain itu.
Diluar itu, Trump dipandang sudah menimbulkan kebanyakan intimidasi dalam rekanan dengan negara lain, seperti India, hingga pilihan untuk relokasi jalan supply jadi amat sedikit.
Segelintir negara lain yang belum disinggung oleh Trump, seperti Vietnam, malah mempunyai kemampuan produksi yang benar-benar rendah, hingga di kuatirkan tidak akan dapat penuhi penambahan pesanan sejumlah besar sekali dalam sekejap.
Mengalihkan jalan supply ke Amerika Serikat dipandang tidak feasible, sebab AS dipandang tidak mempunyai sdm yang ideal.
Di lain sisi, AS serta China belum memastikan agenda perundingan perdagangan yang seharusnya diawali dalam bulan September ini.
Kedua pihak belum meluncurkan berita apa pun, hingga aktor pasar makin cemas tentang kekuatan efek perang dagang berkelanjutan.






