DXY sempat mendapatkan rekor paling tinggi semenjak Mei 2017 pada session Eropa 1/10.
Sesudah bank sentra Australia RBA menginformasikan kebijaksanaan dovish yang menyebabkan Greenback kuat relevan pada Aussie.
Tetapi, tempat DXY terguling ke posisi 99.36 pada awal session New York, sebab hasil survey ISM mengenai keadaan industri manufaktur AS nyatanya sangat menyedihkan.
Berdasar laporan Institute for Suplai Management ISM, score Purchasing Managers’ Index untuk bidang manufaktur AS roboh dari 49.1 jadi 47.8 pada bulan September 2019.
Score itu bermakna keadaan bidang manufaktur semakin lebih buruk, walau sebenarnya awalnya diinginkan puli ke 50.4. Score 47.8 adalah rekor terjelek semenjak bulan Juni 2009.
Data ISM itu langsung tingkatkan kecemasan aktor pasar tentang peluang krisis yang terjadi di negeri Paman Sam. Indeks Dow Jones turun sampai lebih dari 100 point.
Dolar AS melemah saat itu juga pada bermacam mata uang mayor seperti Euro serta Yen Jepang.
Perdagangan global masih jadi rumor paling relevan, seperti diperlihatkan oleh kontraksi dalam elemen data pesanan export baru yang diawali semenjak Juli 2019.
Keseluruhannya, sentimen bulan ini masih berhati-hati berkaitan perkembangan periode pendek, papar Timothy Fiore, pimpinan ISM, dalam satu pengakuan yang diambil oleh CNBC.
Tidak hanya pesanan export yang menyusut, data ISM tunjukkan backlog serta inventori bahan baku alami kontraksi.
Kontraksi bidang manufaktur AS yang makin dalam ini menunjukkan jika AS menanggung derita efek negatif lumayan besar ditengah-tengah perang dagang yang dikobarkan Trump pada China.
Walau sebenarnya, bidang manufaktur AS sempat nikmati perkembangan cepat pada awal pemerintahan Trump.
Sampai sekarang, AS dipandang hadapi imbas perang dagang yang lebih minim dibanding beberapa negara berbasiskan export seperti China, Zone Euro, serta Australia.
Ini sebab perekonomian AS terhitung consumer-driven economy yang condong kuat sepanjang ketertarikan berbelanja customer domestik masih sehat.
Bidang Mengonsumsi memberi lebih dari 50 % GDP AS, hingga efek penurunan keinginan export condong minim.
Namun, GDP AS akan mulai labil bila dampak perlambatan bidang produksi manufaktur meluas sampai sektor-sektor ekonomi yang lain.






