DXY diperdagangan hampir flat seputar posisi 96.75 pada session Eropa hari Kamis ini 4/7, bersamaan dengan jatuhnya yield obligasi pemerintah AS US Treasury.
Penambahan harapan pemotongan suku bunga Fed menggerakkan Dolar AS melemah pada beberapa mata uang mayor mendekati launching data Non-farm Payroll NFP keesokan hari, meskipun bank sentra lain direncanakan akan menjaga kebijaksanaan moneter longgar.
Yield obligasi AS bertenor 10-tahunan jatuh ke bawah ujung 2 % semenjak awal minggu ini sampai tersuruk di rata-rata 1.953 %, posisi terendahnya semenjak bulan November 2016.
Kemerosotan ini tingkatkan prospek pemotongan suku bunga Federal Reserve. Optimisme pasar tentang negosiasi dagang AS dengan China malah menghilang, sesudah Presiden AS Donald Trump mengatakan jika persetujuan apa pun yang terwujud dalam perundingan itu harus lebih memberikan keuntungan Amerika Serikat.
Walau sebenarnya, ronde baru perundingan AS-China akan diawali minggu kedepan. Sekarang ini, aktor pasar fokus menantikan data NFP yang akan dikeluarkan di hari Jumat. Ekonom mengestimasikan kenaikan NFP sekitar 160,000 pada bulan Juni 2019, bertambah 2 kali lipat dibanding perolehan 75,000 pada bulan Mei.
Tetapi, walau kalau harapan itu terealisasikan, analis mensinyalir jika Dolar AS masih condong bearish jadi imbas dari tingginya harapan pemotongan suku bunga Fed.
Ketika yield AS serendah ini, Anda tidak dapat mengharap beberapa orang akan bergabung serta beli Dolar, kata Junichi Ishikawa, ahli taktik forex senior dari IG Securities.
Sambungnya, Sentimen cenderung ke pengujian bagian bawah Dolar. Ada harapan suku bunga lebih rendah di Eropa serta Inggris, jadi peluang lebih gampang buat Dolar untuk bergerak pada Yen.
Waktu berita dicatat, USD/JPY bersambung alami penurunan 0.05 % ke rata-rata 107.76, sesaat EUR/USD masih terjepit dalam rata-rata di antara 1.2800-1.1300.
Bias kebijaksanaan bank sentra Eropa makin dovish, sesudah Ketua IMF Christine Lagarde jadi satu diantara calon terkuat untuk tukarkan Mario Draghi jadi Presiden ECB.
Tetapi, beberapa aktor pasar yang lain malah optimistis jika Lagarde akan dapat mengatasi tantangan-tantangan ekonomi Zone Euro, terhitung intimidasi No-Deal Brexit, kritis utang Italia, serta lesunya inflasi.






