Laporan dari Indeks Dolar AS sudah sempat mengendur sampai -0.15 % ke posisi 95.52 di akhir sesi perdagangan Eropa Kamis ini 18/Oktober, tapi kembali bergerak naik sampai ke +0.03 % ke posisi 95.69 bersamaan dengan launching dua data ekonomi terpenting dari AS pada sesi perdagangan New York.
Laporan Jobless Claims serta indeks manufaktur dari Federal Reserve Philadelphia sudah melebihi harapan, hingga menggerakkan kembali momen pasar untuk memihak Dolar AS.
Dinas Ketenagakerjaan AS memberikan laporan jika Initial Jobless Claims alami penurunan ke level 210 k untuk periode satu pekan lalu, lebih rendah dari perkiraan awal yang dibanderol pada 211k.
Continuing Jobless Claims ikut diberitakan alami penurunan dari 1,653k jadi 1,640k. Ke-2 data ini menguatkan pertanda kuatnya bidang ketenagakerjaan AS sesudah data JOLTS Jobless Claims yang launching kemarin ikut melebihi perkiraan.
Selain itu, Federal Reserve Philadelphia memberikan laporan jika indeks manufaktur dalam hasil survey bulanannya cuma alami penurunan dari 22.9 jadi 22.2 dalam bulan Oktober meskipun aktor pasar awalannya telah memprediksi penurunan sampai 19.7.
Dengan spesial, segi ketenagakerjaan dalam survey ini bertambah dari 17.6 jadi 19.5, meskipun indeks CAPEX serta pesanan baru yang sudah membukukan rekor lebih rendah.
Lepas dari beberapa sinyal tentang masih tetap kuatnya reli Indeks Dolar AS ini, beberapa pihak mewanti-wanti peluang kejatuhan momentumnya terhadap beberapa mata uang lainnya dalam tempo dekat.
Survey Reuters paling baru yang diterbitkan barusan sore mengatakan jika tempat short pada beberapa mata uang Asia terlihat alami penurunan dalam dua minggu paling akhir.
Survey melaporkan, pertaruhan bearish terhadap Dolar Singapura, Dolar Taiwan, serta Peso Filipina alami penurunan dalam dua minggu paling akhir. Tempat short atas Baht Thailand ikut jatuh ke posisi paling rendah semenjak bulan Mei karena kuatnya mendasar ekonomi.
Akan tetapi, tempat bearish terhadap Won Korea Selatan bertambah ke posisi paling tinggi semenjak awal Agustus sesaat pertaruhan bearish paling tinggi terfokuskan terhadap kondisi Rupiah Indonesia serta Rupee India, karena besarnya defisit laporan keuangan berjalan ke-2 negara serta tingginya ketergantungan terhadap import minyak.
Menurut survey Reuters itu, beberapa trader sebagai responden beralih skeptis pada Dolar AS, sesudah data penjualan ritel launching lebih rendah dari harapan.
Diluar itu, ketidakpastian politik mendekati pemilu parlemen AS bulan kedepan ikut diprediksikan akan memberatkan Greenback.






