DXY terpantau naik hampir 0.1 % ke rata-rata 97.90 pada awal session Eropa hari Jumat ini 3/5, mendekati publikasi data Non-farm payrolls NFP periode April malam nanti.
Dolar AS kuat pada sejumlah besar mata uang mayor, sebab menyusutnya harapan pemangkasan suku bunga Federal Reserve.
Pasangan mata uang EUR/USD sudah melandai 0.1 % ke posisi 1.1160, GBP/USD terkoreksi seputar 0.1 % ke posisi 1.3020, sesaat USD/JPY konstan di rata-rata 111.53.
Dolar AS sudah kuat dengan berkelanjutan semenjak pertemuan wartawan saat FOMC. Pada peristiwa itu, pimpinan Fed, Jerome Powell, menjelaskan jika beberapa faktor yang perlambat inflasi AS sekarang ini cuma temporer saja.
Oleh karenanya, dia tidak memandang butuh untuk mengubah suku bunga, baik naik ataupun turun. Animo Dolar AS di dukung juga oleh sikap bank-bank sentra mayor yang lain yang makin dovish dengan probabilitas besar untuk memotong suku bunga semasing dalam tahun ini.
Arus data ekonomi sesuai dengan umumnya bank sentra yang ambil sikap berhati-hati, cemas pada resiko perlambatan perkembangan global, kata Alan Ruskin dari Deutsche Bank.
Dalam kondisi ini, menurut dia, USD akan tertolong sebab mempunyai kelebihan yield yang telah ada semenjak awalnya, dan bank sentra yang berupaya keras untuk berpesan teguh menggenggam kebijaksanaannya.
Pasar futures memberi tanda-tanda terdapatnya kesempatan pemangkasan suku bunga Fed sebesar 49 % saja untuk bulan Desember akan datang, turun dari 61 % di hari Rabu kemarin. Yield obligasi pemerintah AS bertenor 2-tahunan naik 6 basis point dalam semenjak awal minggu.
Selanjutnya, aktor pasar akan memonitor laporan ketenagakerjaan AS bulan April yang berisi data Non-farm Payrolls, tingkat pengangguran, perkembangan upah, dan rangkaian perincian lain.
Perkiraan awal tempatkan prediksi NFP naik sekitar 185,000 dengan tingkat pengangguran masih 3.8 %. Tetapi, kunci penting bisa saja terdapat pada data rata-rata perkembangan upah per-jam yang disebut satu diantara penggerak inflasi AS.
Jika perkembangan upah tidak berhasil sampai perkiraan 3.3 % Year-on-Year, karena itu reli Dolar AS dapat roboh. Masalahnya permasalahan inflasi yang lesu masih jadi sorotan pasar, walau Powell telah berusaha menahan kecemasan itu.






