Perdagangan hari ini Dolar AS masih tertahan untuk beberapa rivalnya hari Selasa sesudah penutupan pemerintah AS (government shutdown) sepanjang tiga hari selesai. Penutupan ini memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan, termasuk pada pergerakan nilai tukar. Pasar kini lebih hati-hati, memperhatikan pernyataan-pernyataan dari pejabat pemerintahan dan bank sentral. Sebagai contoh, para investor kini lebih memilih untuk mengamati langkah-langkah yang akan diambil oleh Federal Reserve dalam menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu.
Dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan dunia yang paling banyak digunakan dalam transaksi internasional. Banyak negara dan perusahaan di seluruh dunia yang memilih untuk menggunakan Dolar AS dalam perdagangan internasional mereka, karena stabilitas dan likuiditas yang ditawarkannya. Hal ini juga berkontribusi pada permintaan yang kuat terhadap Dolar AS, meskipun ada tantangan yang dihadapi oleh ekonomi AS saat ini.
Dolar AS dan Perdagangan Internasional
Sesuai dengan laporan dari DailyFX pada awal malam hari ini, Indeks Dolar AS, yang mengukur kemampuan greenback pada perdagangan yang masih tertimbang enam mata uang paling utama, hanya bergerak naik ke 90,36. Angka ini tidak jauh dari posisi paling rendah tiga tahun di 90,11, menunjukkan betapa pentingnya pemulihan kepercayaan pasar terhadap Dolar AS. Dalam beberapa minggu ke depan, kami akan melihat bagaimana indeks ini bereaksi terhadap data ekonomi yang akan dirilis, termasuk laporan tenaga kerja dan inflasi, yang menjadi indikator penting bagi kebijakan moneter mendatang.
Salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan Dolar AS adalah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Ketika Fed mengumumkan kenaikan suku bunga, biasanya Dolar AS akan menguat karena menarik lebih banyak investor yang mencari imbal hasil yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika Fed menurunkan suku bunga, Dolar AS cenderung melemah. Analisis terhadap pola pergerakan suku bunga dan dampaknya terhadap nilai Dolar AS sangat penting untuk memahami arah pergerakan pasar.
Pada hari Senin, Kongres AS menyepakati satu rancangan undang-undang untuk mendanai layanan pemerintahan AS selama sekitaran tiga minggu. Presiden Donald Trump menandatangani undang-undang itu, mengakhiri shutdown berusia tiga hari tersebut. Namun, meskipun situasi ini telah teratasi, banyak analis yang khawatir mengenai potensi dampak jangka panjang dari ketidakpastian kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Selain itu, keadaan ekonomi global juga mempengaruhi nilai Dolar AS. Ketika ada ketidakpastian dalam ekonomi global, investor cenderung mencari perlindungan dalam Dolar AS, sehingga meningkatkan permintaannya. Misalnya, saat terjadi krisis di negara-negara lain, Dolar AS seringkali menjadi pilihan utama untuk investasi yang lebih aman. Hal ini menunjukkan bahwa Dolar AS tetap menjadi aset yang dicari meskipun dalam kondisi pasar yang volatile.
Disamping itu, yen pernah melemah terhadap greenback setelah Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda menyatakan masih ada jarak untuk menjangkau sasaran inflasi 2% bank dan tak ada perbincangan tentang saat keluarnya bank itu dari kebijakan moneternya yang longgar. Pernyataan ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa Bank of Japan mungkin akan terus mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif untuk waktu yang lebih lama, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pergerakan mata uang di kawasan Asia dan juga pasar global.
Penting untuk dicatat bahwa kondisi politik dan kebijakan pemerintah di AS juga dapat mempengaruhi nilai Dolar AS. Ketidakpastian politik, seperti pemilihan umum yang akan datang atau perubahan dalam kepemimpinan, dapat menciptakan ketidakstabilan di pasar. Investor biasanya lebih sensitif terhadap berita politik, dan pernyataan dari pemimpin politik dapat memiliki dampak langsung terhadap pergerakan nilai tukar Dolar AS.
USD/JPY menjangkau ¥111,16 menyusul perkataan Kuroda tersebut, sebelum kembali bergerak naik ke ¥110,36. Sedangkan Euro justru menurun terhadap mata uang dolar, dengan kondisi dari EUR/USD menurun 0,21% menjadi $1,2235 hingga pada saat berita ini dirilis. Ini menunjukkan bahwa investor semakin pesimis terhadap kekuatan Euro menjelang pertemuan ECB yang akan datang, di mana para pelaku pasar berharap akan ada penjelasan mengenai langkah kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral Eropa pada pertemuan minggu ini.
Keinginan pada mata uang tunggal zona euro selalu didukung mendekati pertemuan European Central Bank (ECB) pada Kamis, yang bisa memberi prediksi mengenai pergeseran status kebijakan moneter untuk masa yang akan datang. Investor memantau setiap komentar dan data yang muncul, karena keputusan yang diambil ECB tidak hanya berpengaruh pada Euro, tetapi juga pada pasar global. Jika ECB memutuskan untuk mulai mengurangi stimulus moneternya, hal ini mungkin akan memberikan dampak positif terhadap Euro dalam jangka panjang.
Situasi dari Sterling justru berbalik melemah. Terhadap GBP/USD menurun 0,43% ke $1,3924, yang harus menjauh dari posisi teratas pada sesi Selasa ini di $1,4003, posisi terkuatnya sejak referendum Brexit bulan Juni 2016. Bahkan pernah didorong pada keinginan ketika Inggris juga akan menjangkau perjanjian Brexit yang sangat menguntungkan. Namun, ketidakpastian seputar negosiasi perdagangan pasca-Brexit terus membayangi pergerakan Pound, dan investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.






