Beranda Analisa Forex Data GDP AS Dirilis Tertetkan Badai Covid-19

Data GDP AS Dirilis Tertetkan Badai Covid-19

721
0

Ekonomi Amerika Serikat AS turun 4, 8% pada kuartal pertama tahun ini, jadi bukti jika epidemi COVID-19 dapat melumpuhkan ekonomi negara Produk Domestik Bruto PDB paling besar di dunia itu.

Ini jadi PDB negatif yang ke-2 buat AS sesudah kuartal I-2014, yang waktu itu minus 1, 1%.

Serta, perolehan kuartal I-2020 ini jadi yang terjelek semenjak kritis finansial 2008, dimana PDB AS minus 8, 4% pada kuartal IV-2008. Ekonom dalam survey Dow Jones sudah memprediksi, PDB Negara Adidaya itu akan terkontraksi alias minus -3, 5%.

Kontraksi ekonomi memperlihatkan jika kesibukan ekonomi satu negara tidak berubah serta berkurang. Elemen yang menyeret jatuh ekonomi AS ialah berbelanja customer, investasi asing di pasar obligasi, export serta inventori.

Sebaliknya, investasi domestic di pasar surat hutang serta berbelanja pemerintah AS menolong mengerem pergerakan pengurangan ekonomi.

Berbelanja warga yang sekarang memberi 67% dari PDB AS terpelanting sampai 7, 6% pada periode kuartal I-2020 mengejar penutupan toko serta restoran karena karantina daerah lockdown parsial.

Dengan cara teoritis, sekarang AS belum terkategori masuk jurang krisis, sebab umumnya predikat ‘resesi’ baru diberikan saat ekonomi turun semasa dua kuartal beruntun. Pada kuartal IV-2019, ekonomi AS tertera masih tumbuh 2, 1%.

Tetapi, suara tentang krisis semakin kuat sebab dampak epidemi COVID-19 baru tercermin pada beberapa minggu paling akhir saja hingga kurang menggambarkan keadaan.

Ditambah lagi, Biro Analisa Ekonomi AS mengaku jika pembacaan awal ini peluang tidak tepat.

Lockdown menyebabkan perkembangan cepat disamping keinginan sebab usaha serta sekolah berubah ke kerja dari rumah atau membekukan operasi, serta customer tunda, batasi, atau mengevaluasi lagi berbelanja mereka.

Dampak penuh epidemi COVID-19 pada perekonomian tidak dapat dikuantifikasi dari perkiraan PDB kuartal pertama 2020,  catat instansi pemerintah itu dalam pengakuan resminya.

Bank investasi Goldman Sachs memandang, situasi di lapangan susah diukur, sebab situasi lockdown mempersulit memperoleh data tepat gerakan barang serta layanan.

Umumnya koreksi PDB dari pembacaan awal ke pembacaan final berbuntut pada tenggang 3-4 point prosentase.

Kami percaya kenyataan ekonomi semasa kuartal ini serta semakin jelek,  papar ekonom Goldman Spencer Hill dalam laporan risetnya, yang diambil CNBC International.

Koreksi PDB yang semakin besar dari umumnya biasa berlangsung di saat krisis serta ditengah-tengah volatilitas ekonomi yang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses