Pasangan AUD/USD ambruk hampir 0.4 % ke rata-rata 0.6822 pada session New York 5/12, menyikapi runtutan data ekonomi domestik Australia serta kondisi geopolitik dunia yang menyedihkan.
Aussie melemah pada Dolar New Zealand, hingga tempat AUD/NZD turun 0.3 % ke rata-rata 1.0456.
Australian Bureau of Statistics ABS memberikan laporan jika penjualan ritel tidak tumbuh benar-benar dalam bulan Oktober 2019, alias cetak perkembangan 0 %.
Rekor itu tambah lebih jelek daripada perkembangan 0.2 % pada era sebelumnya, serta sangat menyedihkan bila dibanding dengan perkiraan awal yang dibanderol pada 0.3 % MoM.
Penjualan ritel di negara sisi Victoria serta New South Wales serta cetak perkembangan negatif, semasing sebesar -0.4 % serta 0.2 %.
Surplus Neraca Perdagangan Australia diberitakan turun dari 7.180 Miliar jadi 4.502 Miliar dalam bulan Oktober 2019. Walau sebenarnya, aktor pasar cuma menghadapi penurunan surplus sampai 6.100 Miliar saja.
Ke-2 data ini dikeluarkan cuma satu hari sesudah laporan GDP tunjukkan mengonsumsi rumah tangga ada pada keadaan paling lemah semenjak kritis keuangan global, hingga tingkatkan kecemasan tentang outlook ekonomi Australia ke depan.
Beberapa ekonom memandang bank sentra Australia Reserve Bank of Australia/RBA akan sangat terpaksa memotong suku bunga pada bulan Februari 2020 untuk hadapi bermacam desakan ekonomi.
Masalahnya bila didiamkan saja karena itu selanjutnya perlambatan akan mulai menghajar bidang ketenagakerjaan.
Dalam kondisi ini, kami mengekspektasikan 2x pemotongan suku bunga dari RBA, bawa suku bunga ke 0.25 % pada Maret tahun kedepan serta memulai Quantitative Easing, tegas Shane Oliver.
Selain itu, ketidakpastian sekitar perundingan dagang AS-China memberatkan Aussie jadi mata uang proxy China di pasar forex.
Barusan pagi, Kementrian Perdagangan China lewat juru bicaranya, Gao Feng, kembali memperjelas pada media jika persetujuan dagang cuma bisa diraih bila Amerika Serikat bersedia kurangi biaya import yang sudah dipakai pada beberapa produk China.
Walau sebenarnya, Trump serta korps-nya pernah menyaratkan keengganan untuk memotong biaya import untuk beberapa produk China sepanjang Beijing belum penuhi tuntutan AS berkaitan perlindungan hak kekayaan cendekiawan serta transfer tehnologi paksa.






