
NZD/USD kemarin (07 Nov) sempat mengalami penurunan kembali, akibat sentimen greenback / indeks dolar yang menguat setelah beberapa data yang dirilis pemerintah AS memiliki efek positif pada pertumbuhan perekonomian AS. Pair ini dibuka pada harga 0.6947 dan ditutup pada level 0.6900 kemarin. Namun, sepertinya candle bear ini merupakan koreksi harga dari kenaikan yang terjadi, serta retest konfirmasi kepada area demand 0.6884 s/d 0.6815.
Jika harga benar-benar naik dari area demand tersebut, kemungkinan area yang dituju adalah area supply level 0.7154 s/d 0.7211. range take profit yang bisa didapatkan sangat besar jika skenario diatas benar-benar terjadi. Jadi hari ini kita tetap akan mencari kesempatan untuk buy mengingat sentimen greenback yang sempat menguat tadi malam sudah mereda hari ini.

Dari gambar diatas kita bisa melihat bahwa Channel yang terbentuk oleh kenaikan sebelumnya tidak terlalu besar, namun bisa cukup sebagai referensi karena Higher High yang terbentuk masih sempurna. Harga saat ini sedang retest masuk ke area demand 0.6906 s/d 0.6872 dan terlihat kesulitan menembus area tersebut, jika area ini dapat bertahan sampai sesi New York dibuka dan berlangung, kemungkinan rebound terjadi menjadi sangat besar. Jika konfirmasi rejection atau reversal candle sudah kita dapatkan, kita bisa entri buy dengan stop loss dibawah level 0.6872 dengan take profit minimal di level supply 0.7154.
Untuk area kedua adalah area demand level 0.6853 s/d 0.6816, area ini juga merupakan area awal kenaikan dimulai. Jika harga bisa retest kembali ke area tersebut, kemudian rejection di sertai konfirmasi reversal candle muncul, kita bisa entri buy dengan stop loss dibawah level 0.6816 dengan take profit minimal di level supply 0.7154.
Untuk plan trading kali ini kita bisa lumayan yakin karena sentimen positif greenback sempat menghilang pagi tadi karena Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, memberikan kritik pedas kepada Korea Utara tentang penggunaan daya nuklir sebagai sumber tenaga alternatif dan senjata. Pernyataan tersebut dikhawatirkan akan membuat situasi antara Korea Utara dan Amerika memanas kembali.






