
GBP/USD pada sesi perdagangan kemarin (21/05) kembali mengalami penurunan dari level pembukaan 1.3468 hingga level penutupan 1.3425. Kemungkinan besar, penurunan masih bisa berlanjut, meskipun EUR/USD jika kita lihat sudah mulai mengurangi kerugiannya.
Namun, jika hari ini GBP/USD mampu membuat bull candle, maka selama pekan ini kemungkinan besar pengurangan kerugian akan dilakukan oleh mayoritas rival mata uang AS setelah tergelincir selama 2 pekan terakhir.
Sisi Fundamental
Dolar mengalami penguatan setelah ketegangan perdagangan antara dua ekonomi besar (AS dan China) ditangguhkan.
Perang dagang antara AS dan China “bisa ditahan” karena keduanya berkomitmen pada perjanjian perdagangan baru. Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin mengatakan bahwasannya Kedua negara telah terlibat dalam pertikaian atas ketidaksepakatan tarif selama beberapa bulan terakhir. Namun, pihak China tetap bersikukuh belum setuju untuk memotong defisit perdagangan, meskipun sudah datang permintaan dari Presiden Donald Trump bahwa ekonomi terbesar kedua dunia itu harus mengurangi surplus perdagangannya sebesar $ 200 miliar.
Disamping itu, Greenback juga didukung oleh naiknya imbal hasil obligasi ke level tertinggi tujuh tahun pekan lalu. Hasil pada benchmark Treasury 10-tahun Amerika Serikat mengalami kenaikan menjadi 3,069 setelah mencapai tertinggi semalam 3,082.
Kenaikan imbal hasil obligasi, bersama dengan data ekonomi positif dan meningkatnya inflasi, telah mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve (Bank Sentral AS) akan menaikkan suku bunga dan memperketat kebijakan moneter.
Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunganya pada Maret lalu, dan diperkirakan akan menaikkan suku dua kali lebih banyak, dengan beberapa investor memperkirakan kenaikan ketiga.
Biasanya, ekspektasi terhadap suku bunga yang lebih besar akan mampu mendorong dolar, sekaligus membuat mata uang tersebut lebih menarik bagi para investor yang sedang mencari imbal hasil.
Sisi Teknikal






