Beranda Analisa Forex Analisa Forex Fundamental Poundsterling Semakin Bergerak Menurun

Poundsterling Semakin Bergerak Menurun

31
0
BERBAGI

Perform poundsterling paling jelek pada session perdagangan akhir minggu Jumat 9/8/19 sesudah anjlok dekati posisi terlemah 34 tahun. Dalam satu hari poundsterling harusnya mengkikhlaskan tergerusnya nilai sebesar 0,8% serta sampai posisi US$ 1,2034, berdasar data Refinitiv.

 

Posisi itu jadi yang terlemah semenjak Januari 2017. Saat itu posisi terlemah poundsterling ialah US$ 1,1979. Mundur ke belakang, poundsterling alami flash crash 7 Oktober 2016, saat dengan mendadak poundsterling anjlok ke posisi US$ 1,1450, tetapi selang beberapa saat kembali sembuh serta akhiri perdagangan hari itu di posisi US$ 1,2432, merilis data Refinitiv.

 

Titik paling rendah waktu flash crash itu adalah posisi terlemah 31 tahun poundsterling menantang dolar AS. Waktu itu nilai ganti poundsterling mendadak anjlok hampir 10%, serta secara cepat kembali .

 

Belum jelas pemicu flash crash, tapi media-media internasional memberikan laporan hal tersebut jadi karena tindakan jual besar yang dikerjakan skema computer.

 

Bila tidak lihat titik paling rendah waktu flash crash, karena itu posisi terlemah poundsterling dalam 31 tahun paling akhir ialah US$ 1,2054 di bulan Januari 2017.

 

Lihat tempat sekarang, posisi itu tidaklah terlalu jauh, bila sukses, dilalui, karena itu poundsterling akan mencatat posisi terlemah 34 tahun menantang dolar AS. Poundsterling di minggu ini bisa menjadi mata uang yang sangat menarik untuk ditransaksikan.

 

Desakan kuat dihadapi pound sesudah data tunjukkan ekonomi Inggris alami kontraksi memasuki kuartal-II 2019. Data dari ONS tunjukkan perkembangan ekonomi atau PDB Inggris sebesar -0,2% alias berkontraksi memasuki kuartal-II tahun ini dari kuartal awalnya yang tumbuh 0,5%.

 

Kontraksi itu adalah yang pertama memasuki kuartal-IV 2012. Kontraksi yang dihadapi Inggris bahkan juga berlangsung sebelum keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober kelak, serta sekarang intimidasi krisis jadi makin riil. Satu negara disebutkan alami krisis bila PDB-nya berkontraksi dua kuartal beruntun.

 

Inggris diperkirakan akan alami krisis kalau keluar dari Uni Eropa tanpa ada persetujuan apa pun atau yang diketahui dengan arti no deal Brexit pada 31 Oktober kelak. Tetapi sekarang, sebelum Brexit berlangsung ekonomi Inggris justru telah berkontraksi.

 

Poundsteling kembali akan mendapatkan masalah dari launching data rata-rata gaji Inggris di hari Selasa 13/8/19 serta data inflasi di hari Rabu 14/8/19. Mata uang Inggris ini berkesempatan ambles lebih dalam bila dua data itu tunjukkan penurunan.

 

Tanpa ada dua data itu poundsterling kelihatan akan tertekan karena kekuatan berlangsungnya no-deal Brexit yang makin kuat. Hasil survey Reuters pada beberapa ekonom periode 2-7 Agustus lalu tunjukkan kekuatan berlangsungnya no-deal Brexit sebesar 35%, naik dibanding survey yang dikerjakan bulan Juli lalu sebesar 30%.

 

Diluar itu hasil survey Reuters pada pakar taktik forex tunjukkan poundsterling diperkirakan akan ambles serta bergerak di rata-rata US$ 1,17-US$ 1,20 31 Oktober. Poundsterling berkesempatan akan terus melemah sepanjang ketahan dibawah posisi US$ 1,21 yang ditembus perdagangan hari Jumat.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.