Beranda Analisa Forex Analisa Forex Fundamental Gaji Menurun, GBP Tergelincir

Gaji Menurun, GBP Tergelincir

25
0
BERBAGI

Pasangan GBP/USD alami penurunan seputar 0.2 % ke  1.2933 memasuki sesi perdagangan hari Selasa  14/Mei, sesudah publikasi laporan ketenagakerjaan Inggris yang meleset dari harapan.

 

Tidak hanya jatuh ke posisi paling rendah dua minggu vs USD, Sterling melemah pada Euro dan memotong kenaikannya vs Yen. Masalahnya laporan itu menunjukkan lambannya pergerakan perkembangan upah yang melandasi prediksi inflasi.

 

UK Office for National Statistics menginformasikan jika data Claiman Count Change melompat dari 22.6k jadi 24.7k dalam bulan April 2019, melebihi perkiraan yang dibanderol pada 24.2k.

 

Data upah plus bonus Average Earnings Index + Bonus cuma tumbuh 3.2 % saja sepanjang bulan Maret, walau sebenarnya awalnya direncanakan cuma akan melambat tipis dari 3.5 % jadi 3.4 %.

 

Simon Harvey, seseorang ahli taktik dari Monex Europe, menuding melesetnya perkembangan upah jadi biang pelemahan Cable kesempatan .

 

Menurut penilaiannya, data perkembangan upah  tidak menggerakkan harapan kenaikan suku bunga bank sentra Inggris. Penyebabnya sebab perkembangan upah yang melambat walau ada penambahan jumlahnya orang kerja tunjukkan jika pemakaian kemampuan perekonomian Inggris dapat bertambah jauh dari harapan.

 

Kemungkinan sebab itu, atau perusahaan-perusahaan suka meningkatkan karyawan sebab siap-siap melawan brexit, tapi menampik membayar tambah tinggi. Lowongan kerja masih tinggi, kata Harvey.

 

Selain itu, ketidakpastian brexit belum tunjukkan pertanda akan teratasi dalam tempo dekat. Usaha PM Theresa May menggalang diskusi lintas partai untuk temukan draft brexit yang bisa di setujui sebagian besar anggota parlemen Inggris, belum membawa hasil sampai  hari.

 

Bahkan juga, beberapa beberapa suara menyumbang dari beberapa pihak mulai mengungkapkan begitu mustahilnya terwujud persetujuan.

 

Di luar negeri, Poundsterling dibebani oleh penambahan kecemasan tentang eskalasi perselisihan dagang di antara AS serta China.

 

Di hari Senin malam, pemerintah China menginformasikan kenaikan bea import sampai 25 % atas USD60 Miliar produk asal AS jadi balasan atas aksi AS meningkatkan bea import atas USD200 Miliar produk AS China pada akhir minggu kemarin.

 

Walau Inggris tidak bergesekan langsung dengan perselisihan itu, tapi sentimen pasar meletakkannya jadi satu diantara asset beresiko tambah tinggi yang butuh dicermati.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.